Jumat, 16 April 2010
Tugas tentang Riwayat Hidup Filsuf
Rusli Marzuki
Imajinasiku adalah biara dan aku adalah biarawannya.
Ungkapan dari John Keats yang dikutip sang tokoh ini dalam sebuah esainya amat tepat menjelaskan proses kreatifnya sebagai seorang penyair. Memang begitulah seorang Rusli Marzuki Saria. Ia seakan ditakdirkan untuk jadi seorang penyair yang menempatkan imajinasi sebagai ranah yang amat luas untuk melahirkan karya-karya puisinya.
Rusli Marzuki Saria yang akrab disapa Papa ini dikenal sebagai seorang sastrawan-budayawan yang karya-karyanya tak bisa dilepaskan dari khazanah kesusastraan Indonesia dalam 50 tahun terakhir. Puisi-puisinya dimuat dalam berbagai media yang ada di Indonesia sejak tahun 1950-an. Ia pun sering tampil dalam berbagai pentas pembacaan puisi di berbabagai kota di tanah air.
Pada 22 Juni 1981, atas undangan Dewan Kesenian Jakarta, Papa membacakan 65 pusinya di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Iven pembacaan dan diskusi puisi ini menjadi momentum penting dalam riwayat kepenyairan Papa sebagai seorang sastrawan nasional yang tinggal di daerah. Dalam ajang inilah para sastrawan dan kritikus sastra nasional mengakui keberadaan Rusli sebagai seorang penyair.
Rusli lahir pada tanggal 26 Januari 1936 di Nagari Kamang Mudik, kecamatan Tilatang Kamang Kabupaten Agam. Ayahnya bernama Marzuki—seorang kepala nagari yang juga punya usaha bendi dan pembuatan sadah. Ibunya bernama Sarianun. Marzuki mempunyai 23 orang istri, Sarianun—ibunya Rusli adalah istrinya yang ketujuh. Sebagai seorang anak, pada tahun 1942 Rusli memulai jenjang pendidikan formal dengan memasuki Sekolah Rakyat (Volkschool).
Pada tahun 1946, ibunya meninggal dunia. Oleh ayahnya, Rusli kemudian dibawa tinggal dii Labuah Silang Payakumbuh. Di kota ini Marzuki meneruskan usaha bendi dan pembuatan sadah. Di kota ini pula Rusli meneruskan sekolahnya yakni ke SD Muhammadiyah di Simpang Bunian. Setamat sekolah dasar Rusli melanjutkan studinya ke SMP Sore Payakumbuh Bahagian Bahasa.
Pada tahun 1953, Marzuki—ayahandanya Rusli meninggal dunia. Kenyataan ini membatalkan cita-cita Rusli untuk kuliah di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta. Berbekal ijazah SMP, Rusli bekerja di Kepolisian yakni di Kantor Koordinator 106 Mobrig (sekarang Brimob) di Bukittinggi. Ia bertugas mengurusi surat masuk dan keluar. Di samping bekerja pada kantor kepolisian di pagi hari, pada sore harinya, Rusli melanjutkan pendidikannya pada SMA Sore Sendiakala Bukittinggi dan ia berhasil meraih ijazah SMA-nya dengan jurusan Bahasa tiga tahun kemudian.
Semenjak sekolah rakyat, minat Rusli pada sastra sudah mulai terlihat. Sejak itu ia sudah membaca buku-buku sastra yang ada di perpustakaan sekolahnya. Cerita-cerita rakyat seperti Kepala Sitalang, Laras Simawang dan Bukit Tambun Tulang sudah mulai dinikmatinya. Ia juga sudah melahap karya-karya sastra seperti Siti Nurbaya karya Marah Rusli, Layar Terkembang-nya Sutan Takdir Alisjahbana dan Di Bawah Lindungan Ka’bah-nya Buya Hamka. Pada masa SMA makin beragamlah karya-karya yang dibaca Rusli. Mulai dari Chairil Anwar, Sjahrir, Asrul Sani, hingga karya-karya penulis asing seperti Rabinranath Tagore, John Steinbeick, Hemingway dan lainnya. Kelak, bacaan-bacaannya ini amat memengaruhi puisi-puisi Rusli.
Tak hanya menyukai bacaan sastra, Rusli juga banyak membaca karya-karya pemikiran dari berbagai aliran baik itu Islam, liberal atau bahkan Marxis. Bacaan-bacaannya itu menjadikan Rusli sebagai seorang mampu berpikir independen. Ia tak terjebak pada dogma pemikiran apa pun. Ia mengagumi beberapa hal dari liberalisme dan marxisme, akan tetapi ia tetap menjadikan Islam sebagai pijakan hidupnya. Namun ia tidak memahami Islam dalam pengertian sempit dan fanatis, tetapi ia menempatkan Islam sebagai ajaran yang mendorong orang pada optimisme, kreativitas, intelektualitas dan keindahan.
Dengan bacaan yang demikian beragam dan luas makin menarik minat Rusli untuk menulis puisi. Pada tahun 1955, untuk pertama kalinya puisi Rusli berjudul Nenekku Pergi Suluk dimuat di surat kabar Nyata yang terbit di Bukittinggi. Pada tahun yang sama, Rusli bersama AA Navis, Lo Fai Hap dan Nasrul Siddik dipercaya mengisi Ruangan Sastra di RRI Bukittinggi.
Pada tahun 1956 Rusli lolos tes untuk jadi anggota Mobrig. Dengan pangkat Sersan ia diangkat menjadi Agen Polisi Kepala di Kantor Koordinator 106 Mobrig Bukittinggi. Namun, diproklamirkannya Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada Januari 1958, membuat karir Rusli di Kepolisian berakhir karena ia memilih bergabung dengan PRRI untuk berjuang dalam menghadapi tekanan Pemerintah Pusat.
Keterlibatannya dalam PRRI memaksa Rusli berjuang keluar masuk hutan. Peristiwa pergolakan ini menjadi periode sejarah penting dalam kehidupan Rusli. Di tengah perang berkecamuk; berbagai derita, kepiluan yang dialami rakyat Sumatra Barat, dirasakan Rusli dengan membatin. Sebagai seorang penyair, ia menuangkan suasana batinnya itu dalam sejumlah puisi yang kemudian dibukukan dengan judul Ada Ratap Ada Nyanyi.
Usai PRRI, meski ada peluang, Rusli tak lagi ingin jadi polisi. Sejak Juli 1961, Rusli menetap di Padang. Ia mangkal di Pasar Mudik dan Pasar Hilir sebagai pedagang jatah atau pedagang perantara.. Banyak jenis dagangan yang dijualnya, di antaranya adalah batik.
Pada 4 Mei 1963, di kampung halamannya, Rusli menikah dengan Hanizar Musa—gadis yang dikenalnya pada masa PRRI. Dari pernikahannya ini, Rusli dikaruniai empat orang anak: Fitri Erlin Denai, Vitalitas Vitrat Sejati, Satyagraha dan Diogenes. Pada tahun ini juga Rusli bekerja sebagai Kepala Tata Usaha di Koperasi Batik Tulis. Di samping bekerja di koperasi ini, bersama beberapa sastrawan seperti Leon Agusta, Dalius Umari, Mursal Esten, Chairul Harun dan Upitha Agustine, Rusli mengisi acara Ruang Sastra Daerah Persinggahan di RRI Padang.
Pada tahun 1969, Rusli mengawali karirnya sebagai wartawan. Rusli bergabung dengan harian Haluan yang mana ia sendiri ikut sebagai pendirinya. Pada awalnya Rusli bekerja sebagai sekretaris redaksi. Namun kemudian ia juga menjadi redaktur berita yang sering juga turun meliput berbagai peristiwa. Kemudian Rusli mengasuh halaman sastra sebagai redaktur kebudayaan. Salah satu rubrik sastra yang ia buat adalah rubrik Monolog dalam Renungan. Karena faktor usia, Rusli pensiun dari Haluan pada tahun 1999. Tetapi sampai kini ia tetap punya rubrik di harian ini yakni rubrik Parewa Sato Sakaki.
Jurnalis yang Menyair
Tetap meneruskan karir sebagai wartawan, pada tahun 1987 Rusli terpilih menjadi anggota DPRD Padang untuk periode 1987-1992 dan ia duduk di Komisi Pembangunan. Dalam menjalankan aktivitasnya sebagai anggota DPRD, Rusli tetap kelihatan sebagai seorang penyair. Dalam beberapa sidang ia kerap membaca puisi. Di antara pusi yang dibacakannya adalah Rakyat karya Hartono Andangjaya. Di tengah kesibukannya sebagai wakil rakyat, Rusli tetap menulis puisi. Di antaranya, Sang Waktu Berbisik Aku Mengangguk, Wang 100 Ribu Rupiah Per Desa dan Mentawai Bisa Tenggelam.
Aktivitas Rusli sebagai sastrawan tak hanya sekadar menulis puisi dan menjadi wartawan. Pada tahun 1994 ia ikut bergabung di Dewan Kesenian Sumatra Barat (DKSB). Pada tahun tahun 1995 ia ditunjuk sebagai bendahara pada organisasi ini, posisi yang tetap dipercayakan padanya sampai tahun 2003. Sebagai wartawan, banyak tempat yang telah ia kunjungi, baik dalam negeri hingga ke manca negara. Pada tahun 1977 ia diminta meliput latihan perang antara Angkatan Laut Indonesia dan Austarlia di Great Barrier Reef (Coral Sea), Australia bagian timur. Pada Oktober 1984, ia juga diundang Kedubes Jerman untuk meliput Farnkfurt Books Fair. Di negara ini ia melihat hal yang sangat mengagumkan yakni dukungan penuh Pemerintahan Jerman untuk dunia pendidikan.
Sebagai sastrawan, banyak peristiwa kesusastraan yang telah diikuti Rusli. Ia sering diundang ke berbagai pertemuan sastrawan baik di tingkat nasional maupun Asia Tenggara. Kehebatannya pun sebagai sastrawan membuatnya meraih penghargaan dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Melalui karyanya Sembilu Darah lembaga ini memberinya Penghargaan Penulisan Karya Sastra Tahun 1997.
Sebagai seorang penyair, Rusli mempunyai tempat tersendiri dalam khazanah sastra di Indonesia. Puisi-pusinya amat kuat berpijak pada tradisi lokal yang berangkat dari tradisi Minangkabau. Seperti ditulis oleh Dasril Ahmad dalam skripsinya yang ditulis pada tahun 1986, puisi-puisi Rusli banyak dipengaruhi cerita-cerita kaba baik dari segi struktur, persamaan latar dan penokohan maupun unsur musikalitas atau iramanya. Makanya, nuansa lokal keminangan amat terasa dalam banyak puisi Rusli. Amat jarang penyair yang memilih lokalitas sebagai pijakan inspirasi puisi, namun Rusli berani melakukannya.
Puisi-puisi Rusli adalah puisi dengan lirik-lirik sederhana yang melukiskan kenyataan hidup yang dialami sehari hari. Di sisi lain puisi-puisi Rusli juga ada yang bernuansa hiporbolik dan dipenuhi kata-kata simbolik. Tema-temanya berangkat dari kenyataan sosial, politik, ekonomi, budaya yang dialami masyarakat di sekitarnya. Ia juga menulis puisi tentang pemberontakan, gugatan terhadap adat dan tradisi maupun krtitik sosial dan politik. Puisinya berjudul Putri Bunga Karang adalah gugatan terhadap tradisi. Puisi ini juga memperlihatkan pengaruh kaba yang amat kuat. Pusi-puisinya seperti Sajak-sajak Parewa, Sajak-sajak Bulan Pebruari, Beri Aku Tambo Jangan Sejarah, dan Berjalan ke Sungai Ngiang amat jelas memperlihatkan nuansa lokal dan pengaruh kaba. Keprihatinan dan kecemasannya terhadap Kota Padang juga ia ungkapkan lewat puisinya Padang Kotaku.
Sekarang, di usianya yang sudah 71 tahun, Papa Rusli masih kelihatan segar dan kuat. Badannya masih langsing dan sehat karena rajin berolah raga. Ia masih kelihatan keren dengan celana jeans dan kaus oblong, pakaian kesukaannya. Sehari-harinya masih aktif dalam berbagai kegiatan terutama menulis dan membaca. Berbagai karya terkini baik sastra, filsafat dan pemikiran keislaman tetap dilahapnya. Malam hari ia beraktivitas di masjid dekat rumahnya. Habis salat subuh ia pergi maraton hingga jam tujuh pagi.
Namun sebagai seorang penyair, mantan polisi, mantan pejuang, mantan politisi, wartawan dan budayawan, banyak pergulatan hidup baik duka maupun suka yang telah dilaluinya. Membaca sosok Rusli adalah membaca riwayat panjang perjalanan hidup seorang anak manusia dengan berbagai warna-warni yang pernah dilaluinya. Sebagaimana ditulisnya dalam Monolog dalam Renungan, membaca puisi adalah membaca sejarah. Begitu pula membaca puisi-puisi Rusli, berarti membaca sejarah hidupnya.
Sebagai seorang penyair, wartawan, pejuang dan politisi, Rusli adalah seorang idealis yang berani menyatakan kebenaran yang dirasakannya. Makanya untuk menggambarkan idealisme Rusli, amatlah tepat yang dikatakan Umar bin Khatab, “Ajarilah anakmu sastra, agar ia menjadi pemberani.” Narasi oleh Abel Tasman/DKSB
Komentar :
Rusli Marzuki ialah seorang sastrawan-budayawan yang karya-karyanya tak bisa dilepaskan dari khazanah kesusastraan Indonesia dalam 50 tahun terakhir. Puisi-puisinya dimuat dalam berbagai media yang ada di Indonesia sejak tahun 1950-an. Beliau merupakan salah satu orang yang tabah karena beliau telah ditinggal oleh kedua orang tuanya. Walau telah ditinggal oleh kedua orang tuanya beliau tetap meneruskan apa yang dicita-citakannya.
Tugas Riset Akuntansi tentang IFRS
3 ways in which IFRS is a change for the better
Nama Kelompok :
- Adif Sudariyanto (20207033)
- Edward (20207376)
- Saryadi (21207000)
3 ways in which IFRS is a change for the better
The basic concepts underlying preparation of financial statements will undergo significant change upon implementation of International Financial Reporting Standards (IFRS) in India. There are three key aspects that run through each principle laid down in IFRS: substance over form, use of fair value, and recognizing time value or time cost of money. These three items need to be understood carefully.
Indian GAAP (generally accepted accounting principles), like any other GAAP, also recognizes the importance of substance over form. Accounting Standard 1 (AS-1) on “Disclosure of Accounting Policies” states that substance rather than form should be the guiding principle in selection and application of accounting policies. However, the true application of this principle will happen only under IFRS. That’s because IFRS is more contemporary and has prescribed the treatment for evolving issues. Also, unlike Indian GAAP, it does not recognize the concept of a legal override. Thus, IFRS will always go by the core substance of the transaction.
That will mean several changes. For instance, under Indian GAAP, redeemable preference capital (shares that do not come with voting rights but which have a higher priority over ordinary shares in terms of dividend payments, and which can be redeemed at the discretion of the issuer or shareholder) has to be treated as equity. IFRS, however, will require it to be treated as debt. Based on substance of terms, instruments such as convertible debentures are likely to be shown partly under debt and partly under equity, since the embedded warrant option in such instruments will be separately identified and presented at its fair value. Contracts for supply of goods and services may get concluded (wholly or partly) as leases (and it could be financial lease as well)!
IFRS will bring with it the concept of functional currency. Indian entities may need to maintain their books in US dollars and report in the same currency to the National Stock Exchange and the Bombay Stock Exchange if the dollar is determined to be the currency for the primary economic environment in which it is operating, subject to regulatory approvals. In rare circumstances, IFRS even allows users to adopt a policy contrary to IFRS principles if the management believes the treatment prescribed under IFRS would be misleading and the policy proposed to be adopted better represents the substance of the underlying transactions.
These concepts are unheard of in most other GAAP frameworks.
The use of fair value in measuring assets and liabilities will increase considerably upon adoption of IFRS, which mandates the use of fair value in measurement of financial instruments, employee compensation, share-based payments, and assets and liabilities acquired in a business combination, to name a few. It will allow use of fair value, as opposed to cost, in relation to property, plant and equipment, intangible assets and investment properties.
The application of these fair value principles would require a company’s management to use considerable judgment in making estimates about the future, and the role of valuation experts in the preparation of financial statements would increase significantly.
Thus, IFRS will be far more complex and challenging in its application compared with the existing regime of accounting standards. In the case of derivatives, held-for-trading investments and investment properties, IFRS allows gains or losses on fair valuation to be recognized in profit or loss accounts for the period. Undoubtedly, this is quite a bold move to allow even unrealized gains to be captured in profit or loss accounts. In such a situation, there will be extra onus on the management to exercise better financial discipline; otherwise, the company may end up declaring dividends out of unrealized profits.
IFRS recognizes that value of money changes with time. It will either be a cost or income, but there is a difference in Rs100 of today and Rs100 two years back or three years later. Hence, IFRS requires receivables and payables, that is, financial assets and liabilities or monetary items to be reflected at current value. Thus, the value of Rs100 payable in three months will be different from Rs100 payable after 36 months.
Consequent to these aspects, IFRS will focus on reflecting the working results and state of affairs of a business more on a current state basis rather than on a holistic long-term or historical cost basis. It will not place undue premium on prudence but push for recording of market gains and reflection of market-related realities over the reporting period. IFRS will allow flexibility in choosing the right accounting policy, but will also lead to enhanced disclosure requirements. Therefore, estimation efforts, subjectivity and judgment will increase manifold in preparing IFRS financial statements. And timelines and costs will also go up accordingly.
That said, the benefits of IFRS are expected to far outweigh the costs and hassles. It will integrate domestic businesses with the global investor and financial community so that there is no language gap and barrier. It will enhance the global competitiveness of Indian businesses as well as finance professionals. And IFRS-literate people will fuel the next wave of the knowledge processing outsourcing boom.
kesimpulan kelompok :
Ada tiga aspek kunci yang berjalan melalui setiap prinsip yang ditetapkan dalam IFRS: substansi atas bentuk, penggunaan nilai wajar, dan nilai waktu atau waktu mengakui biaya uang dimana ketiga aspek ini harus dipahami dengan sangat hati-hati
Sebagai contoh, di bawah India GAAP, modal preferensi diuangkan (saham yang tidak datang dengan hak suara tetapi yang memiliki prioritas lebih tinggi di atas saham biasa dalam hal pembayaran dividen, dan yang dapat ditebus pada kebijaksanaan emiten atau pemegang saham) harus diperlakukan sebagai ekuitas.
IFRS mengakui bahwa perubahan nilai uang dengan waktu. Ini baik akan menjadi biaya atau pendapatan, tetapi ada perbedaan dalam Rs100 Rs100 hari ini dan dua tahun ke belakang atau tiga tahun kemudian. Oleh karena itu, IFRS membutuhkan piutang dan hutang, yaitu, aset keuangan dan kewajiban atau item moneter yang akan tercermin pada nilai saat ini. Dengan demikian, nilai Rs100 hutang dalam tiga bulan akan berbeda dari Rs100 hutang setelah 36 bulan.
manfaat IFRS diharapkan jauh lebih besar daripada biaya dan hassles. Ini akan mengintegrasikan bisnis dengan investor domestik dan komunitas keuangan global sehingga tidak ada kesenjangan bahasa dan penghalang. Hal ini akan meningkatkan daya saing global perusahaan India serta profesional keuangan. Dan orang-orang akan mengerti IFRS akan bahan bakar gelombang berikutnya outsourcing proses pengetahuan boom.
Jumat, 19 Maret 2010
tugas riset akuntansi tentang IFRS
Navigate the 2010 IFRS Certificate Program
International Financial Reporting Standards
Three Reasons Why You MUST Know IFRS :
1) IFRS is Approaching
Companies will need to invest in staff training and implementation to support the transition. By becoming your organization’s IFRS expert, you will be well positioned as a leader in ensuring a smooth transition.
2) IFRS is Costly
Education plays a vital role in controlling costs. Demand will grow for professionals with IFRS certification who can apply their knowledge more efficiently and effectively than those who are not certified.
3) IFRS is the Future
Your ability to advance in your career depends on how well you identify and seize opportunities. Learning this new global reporting language will make you more valuable to your employer and more marketable to clients.
SEC Leadership In International Effort
The U.S. Securities and Exchange Commission has for many years been a strong leader in international efforts
to develop a core set of accounting standards that could serve as a framework for financial reporting in cross-border
offerings. It has repeatedly made the case that issuers wishing to raise capital in more than one country are faced with
the increased compliance costs and inefficiencies of preparing multiple sets of financial statements to comply with
different jurisdictional accounting requirements. In 2000, the International Organization of Securities Commissions
(IOSCO), in which the SEC plays a leading role, recommended that its members allow multinational issuers to use 30
“core” standards issued by the IASB’s predecessor body in cross-border offerings and listings.
A few years later, the SEC announced its support of a memorandum of understanding — the Norwalk
Agreement —
between the Financial Accounting Standards Board (FASB) and the International Accounting
Standards Board. This agreement, concluded in Norwalk, Connecticut, established a joint commitment to develop
compatible accounting standards that could be used for both domestic and cross-border financial reporting. In a
subsequent memorandum of understanding, the FASB and the IASB agreed that a common set of high quality, global
standards remained their long-term strategic priority and established a plan to align the financial reporting of U.S.
issuers under U.S. GAAP with that of companies using IFRS.
Between 2005 and 2006, the number of foreign private issuers filing with the SEC using IFRS jumped from a
handful to 110, and the SEC expects the number to continue to increase. In February 2006, SEC Chairman Christopher
Cox reaffirmed the SEC’s commitment to achieving one set of high quality, globally accepted accounting standards and
opened the possibility that U.S. financial statements could be prepared using IFRS or U.S. GAAP.
3 ways in which IFRS is a change for the better
The basic concepts underlying preparation of financial statements will undergo significant change upon implementation of International Financial Reporting Standards (IFRS) in India. There are three key aspects that run through each principle laid down in IFRS: substance over form, use of fair value, and recognizing time value or time cost of money. These three items need to be understood carefully.
Indian GAAP (generally accepted accounting principles), like any other GAAP, also recognizes the importance of substance over form. Accounting Standard 1 (AS-1) on “Disclosure of Accounting Policies” states that substance rather than form should be the guiding principle in selection and application of accounting policies. However, the true application of this principle will happen only under IFRS. That’s because IFRS is more contemporary and has prescribed the treatment for evolving issues. Also, unlike Indian GAAP, it does not recognize the concept of a legal override. Thus, IFRS will always go by the core substance of the transaction.
That will mean several changes. For instance, under Indian GAAP, redeemable preference capital (shares that do not come with voting rights but which have a higher priority over ordinary shares in terms of dividend payments, and which can be redeemed at the discretion of the issuer or shareholder) has to be treated as equity. IFRS, however, will require it to be treated as debt. Based on substance of terms, instruments such as convertible debentures are likely to be shown partly under debt and partly under equity, since the embedded warrant option in such instruments will be separately identified and presented at its fair value. Contracts for supply of goods and services may get concluded (wholly or partly) as leases (and it could be financial lease as well)!
IFRS will bring with it the concept of functional currency. Indian entities may need to maintain their books in US dollars and report in the same currency to the National Stock Exchange and the Bombay Stock Exchange if the dollar is determined to be the currency for the primary economic environment in which it is operating, subject to regulatory approvals. In rare circumstances, IFRS even allows users to adopt a policy contrary to IFRS principles if the management believes the treatment prescribed under IFRS would be misleading and the policy proposed to be adopted better represents the substance of the underlying transactions.
These concepts are unheard of in most other GAAP frameworks.
The use of fair value in measuring assets and liabilities will increase considerably upon adoption of IFRS, which mandates the use of fair value in measurement of financial instruments, employee compensation, share-based payments, and assets and liabilities acquired in a business combination, to name a few. It will allow use of fair value, as opposed to cost, in relation to property, plant and equipment, intangible assets and investment properties.
The application of these fair value principles would require a company’s management to use considerable judgment in making estimates about the future, and the role of valuation experts in the preparation of financial statements would increase significantly.
Thus, IFRS will be far more complex and challenging in its application compared with the existing regime of accounting standards. In the case of derivatives, held-for-trading investments and investment properties, IFRS allows gains or losses on fair valuation to be recognized in profit or loss accounts for the period. Undoubtedly, this is quite a bold move to allow even unrealized gains to be captured in profit or loss accounts. In such a situation, there will be extra onus on the management to exercise better financial discipline; otherwise, the company may end up declaring dividends out of unrealized profits.
IFRS recognizes that value of money changes with time. It will either be a cost or income, but there is a difference in Rs100 of today and Rs100 two years back or three years later. Hence, IFRS requires receivables and payables, that is, financial assets and liabilities or monetary items to be reflected at current value. Thus, the value of Rs100 payable in three months will be different from Rs100 payable after 36 months.
Consequent to these aspects, IFRS will focus on reflecting the working results and state of affairs of a business more on a current state basis rather than on a holistic long-term or historical cost basis. It will not place undue premium on prudence but push for recording of market gains and reflection of market-related realities over the reporting period. IFRS will allow flexibility in choosing the right accounting policy, but will also lead to enhanced disclosure requirements. Therefore, estimation efforts, subjectivity and judgment will increase manifold in preparing IFRS financial statements. And timelines and costs will also go up accordingly.
That said, the benefits of IFRS are expected to far outweigh the costs and hassles. It will integrate domestic businesses with the global investor and financial community so that there is no language gap and barrier. It will enhance the global competitiveness of Indian businesses as well as finance professionals. And IFRS-literate people will fuel the next wave of the knowledge processing outsourcing boom.
The impact of IFRS on corporate governance
IFRS requires valuations and future forecasts, which will involve use of estimates, assumptions and management’s judgements
Come 2011, and audit committees and board members of Indian companies will have to deal with convergence of Indian GAAP (generally accepted accounting principles) with International Financial Reporting Standards (IFRS), which will have a key impact on their functioning, roles and responsibilities. The audit committees and board members will have to handle this challenge in an effective manner.
One of the basic features of IFRS is that it is a principle-based standard, unlike US GAAP, which is rule based. IFRS involves extensive use of judgement in selection of appropriate accounting policies and alternative treatments, including at the time of adoption. Also, IFRS requires valuations and future forecasts, which will involve use of estimates, assumptions and management’s judgements. It has been observed that the combination of all these factors can have a significant impact on the reported earnings and financial position of an enterprise. So far, audit committees and board of directors largely had an oversight role on accounting matters. With IFRS, this role is set to get enhanced considerably.
Therefore, in the next two years, audit committees and boards in India will have to specifically focus on how well companies are geared for the transition to IFRS. The members responsible for governance will have to spend considerable time in ensuring appropriate convergence of Indian GAAP with IFRS. They must be aware of the options available under IFRS, the choices made and the reasons for making these choices. Further, they must understand the impact of convergence on significant accounting matters and their likely effect on financial statements.
IFRS will not merely be a technical accounting conversion. Convergence will impact most business aspects, including structuring of contracts with customers and vendors, performance appraisal parameters and reward plans, and managing external investor relations and communication. Therefore, it will be imperative for governing members to have a detailed knowledge of the impact of IFRS on a company’s business. How will it impact business processes, including the IT system? Is the core team leading the IFRS conversion process adequately trained or not? How will the company communicate the impact of IFRS to its investors and lenders? Will this result in any tax or regulatory issues?
It will be most critical for boards to monitor the quality and robustness of the conversion process and the road map to IFRS. Essentially, IFRS will be a significant change that will need to be managed properly.
Under IFRS, prior years’ errors and omissions will have to be effected through restatement of previously declared results, which will be a critical change from prevailing practices in India. With IFRS, the complexities involved in preparing financial statements will increase manifold, thereby increasing the risk of errors and omissions. There is a strong likelihood that Indian companies will start restating accounts soon, much like their peers in the US do. As many as 1,538 restatements were filed in 2006 by US companies.
Usually, investors and regulators look at any restatement negatively, so audit committees and board members will need to manage and address this risk effectively. Moreover, restatements may be viewed with suspicion by tax authorities in India, who may not be able to understand the changes emanating from convergence with the IFRS reporting framework.
A survey of audit committees and board members of at least 176 US corporations carried out by Ernst & Young in 2006 disclosed some interesting facts. Only 25% of the respondents indicated that they have a formal plan for dealing with financial errors and irregularities, and merely 40% had a formal continuing education process, with the time spent annually being around 10 hours for most members. The state of preparedness in India is unlikely to be any better, but with IFRS kicking in, all of this needs attention and needs to change. Board members will have to be prepared to commit significant time and resources to deal with business and accounting issues arising out of convergence with IFRS.
The biggest challenge for members charged with governance will be to manage stakeholder expectations in terms of meeting targets and key performance indicators, declaring dividends and explaining variations and volatility in earnings on a quarterly basis. This is a challenging task even now, but with the arrival of IFRS, the challenge is set to assume a different dimension. Audit committees and board members should start preparing for this challenge now.
Jumat, 12 Maret 2010
ekonomi
2009-2010 Kondisi Kritis Ekonomi Indonesia
JAKARTA - Kondisi ekonomi dalam negeri pada tahun 2009 hingga 2010 merupakan kondisi yang cukup kritis. Pasalnya, perlambatan ekonomi global saat ini baru akan terasa dalam dua atau tiga kuartal mendatang.
Plt Menko Perekonomian, Sri Mulyani, mengatakan dampak itu akan terlihat di neraca pembayaran 2009. Maka itu pemerintah akan menyusun RAPBN 2009 secara lebih hati-hati.
"Kita melihat tahun 2009 dan 2010 adalah tahun yang cukup kritis yang harus kita manage dari sisi kebijakan ekonominya dan respons kebijakan yang harus kita lakukan. Manajemen APBN dengan DPR akan lebih hati-hati lagi supaya tahun 2009 mendapatkan format yang terbaik," ujar Sri Mulyani, usai rakor di Gedung Depkeu, Jakarta (5/10/2008).
Selain mencermati rancangan APBN 2009, pemerintah juga akan menjaga stabilitas ekonomi bersama BI melalui tingkat inflasi, nilai tukar suku bunga. Hal ini untuk menciptakan kepastian atau kepercayaan dari pelaku usaha.
Langkah lainnya yakni pemerintah akan memperbaiki dan mempercepat reformasi di sektor riil sehingga bisa berjalan lebih efektif. Pemerintah juga akan menjaga program kemiskinan, ketahanan pangan dan pengurangan pengangguran.
Selain itu pemerintah memastikan kondisi ekonomi makro pada 2008 akan tetap terjaga meski saat ini hampir seluruh negara mengalami perlambatan ekonomi. Namun, pemerintah tetap akan waspada dalam menyikapi perkembangan ekonomi global.
"Jadi kesimpulannya untuk ekonomi 2008 secara makro mungkin beberapa target masih akan bisa kita jaga dan tercapai namun tidak akan mengurangi waspada dan kehati-hatian sampai akhir 2008," ujarnya.(ahm)
sumber : http://economy.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/10/05/19/150991/2009-2010-kondisi-kritis-ekonomi-indonesia
tugas riset akuntansi tentang ekonomi
Laporan Perekonomian Indonesia Tahun 2008
Gejolak krisis keuangan global telah mengubah tatanan perekonomian dunia. Krisis global yang berawal di Amerika Serikat pada tahun 2007, semakin dirasakan dampaknya ke seluruh dunia, termasuk negara berkembang pada tahun 2008. Sejumlah kebijakan yang sangat agresif di tingkat global telah dilakukan untuk memulihkan perekonomian. Di Amerika Serikat, sebagai episentrum krisis, kebijakan pemerintah baru yang menempuh langkah serius untuk mengatasi krisis, menjadi faktor positif yang dapat mengurangi pesimisme akan resesi yang berkepanjangan dan risiko terjadinya depresi. Sementara itu,kemauan negara-negara industri maju lainnya untuk berkoordinasi dalam kebijakan pemulihan ekonomi juga diharapkan dapat meningkatkan keyakinan pelaku pasar. Namun, proses berbagai lembaga keuangan memperbaiki struktur neracanya (deleveraging) yang diperkirakan masih terus berlangsung, serta dampak umpan balik dari sektor riil ke sektor keuangan, menyebabkan risiko dan ketidakpastian di pasar keuangan global masih tinggi.
Di Indonesia, imbas krisis mulai terasa terutama menjelang akhir 2008. Setelah mencatat pertumbuhan ekonomi di atas 6% sampai dengan triwulan III-2008, perekonomian Indonesia mulai mendapat tekanan berat pada triwulan IV-2008. Hal itu tercermin pada perlambatan ekonomi secara signifikan terutama karena anjloknya kinerja ekspor. Di sisi eksternal, neraca pembayaran Indonesia mengalami peningkatan defisit dan nilai tukar rupiah mengalami pelemahan signifikan. Di pasar keuangan, selisih risiko (risk spread) dari surat-surat berharga Indonesia mengalami peningkatan yang cukup signifikan yang mendorong arus modal keluar dari investasi asing di bursa saham, Surat Utang Negara (SUN), dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Secara relatif, posisi Indonesia sendiri secara umum bukanlah yang terburuk di antara negara-negara lain. Perekonomian Indonesia masih dapat tumbuh sebesar 6,1% pada 2008. Sementara kondisi fundamental dari sektor eksternal, fiskal dan industri perbankan juga cukup kuat untuk menahan terpaan krisis global (Tabel 1). Meski demikian, dalam perjalanan waktu ke depan, dampak krisis terhadap perekonomian Indonesia akan semakin terasa.
Semakin terintegrasinya perekonomian global dan semakin dalamnya krisis menyebabkan perekonomian di seluruh negara akan mengalami perlambatan pada tahun 2009. Indonesia tak terkecuali. Bank Indonesia memperkirakan perekonomian Indonesia di tahun 2009 akan tumbuh melemah menjadi sekitar 4,0%, dengan risiko ke bawah terutama apabila pelemahan ekonomi global lebih besar dari yang diperkirakan. Penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut bukan sesuatu yang buruk apabila dibandingkan dengan banyak negara-negara lain yang diperkirakan tumbuh negatif. Oleh karenanya, upaya Pemerintah dan Bank Indonesia untuk mencegah dampak krisis ini meluas lebih dalam, melalui kebijakan di bidang fiskal, moneter, dan sektor riil, menjadi penting untuk dilakukan di tahun 2009.
sumber : www.bi.go.id
resep pisang bakar keju
BAHAN :
3 buah pisang raja / kepok
Keju parut secukupnya untuk taburan
SAUS KEJU :
1 siung bawang putih, haluskan
1 sdt mentega
2 sdm terigu
25 gr keju parut
150 cc susu cair
Garam, merica secukupnya
CARA MEMBUAT :
1. Bakar pisang. Taburi keju parut.
2. Sajikan bersama saus keju
tugas riset akuntansi bebas
Yang saya hormati Bapak Kepala Sekolah, Bapak dan Ibu Guru, serta kawan-kawan yang saya cintai.
Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Hari ini merupakan saat yang berbahagia bagi kita semua. Patutlah kita memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah Nya sehingga kita dapat hadir dalam acara yang kita tunggu ini.
Bapak-bapak, ibu-ibu dan kawan-kawan yang saya hormati,
Pada kesempatan ini, perkenankanlah saya menyampaikan topik yang berkenaan dengan masalah yang sering kita alami, yaitu pentingnya istirahat sebelum lelah. Sebagaimana telah kita ketahui, kita harus mencegah kelelahan pada diri kita sendiri. Menurut para ahli, kelelahan fisik dapat menimbulkan berbagai gangguan jiwa, seperti kecemasan, agresivitas, mudah marah, mudah tersinggung dan sebagainya. Setidaknya, kelelahan akan menurunkan daya tahan perasaan terhadap perasaan cemas dan khawatir. Menurut ilmu kesehatan, kelelahan dapat menurunkan daya tahan fisik dalam melawan demam dan ratusan penyakit lainnya. Dengan demikian, istirahat sebelum lelah itu dapat mencegah terjadinya penurunan daya tahan, baik fisik maupun psikis. Selain itu dapat dicegah dengan minum multivitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh agar tidak kelelahan.
Bapak-bapak, Ibu-ibu dan kawan-kawan yang terhormat
Jadi, kita boleh bekerja keras seperti seakan-akan kita tidak akan mati. Waktu yang kita miliki wajib kita gunakan dengan baik, mulai bangun tidur, misalnya pukul 05.00 pagi dan tidur sebelum pukul 10.00 malam. Sebaiknya kita jangan tidur terlalu malam, apalagi sampai begadang hingga larut malam, karna tidak baik untuk kesehatan.
Demikianlah pidato yang saya sampaikan, semoga bermanfaat bagi saudara sekalian. Apabila ada salah kata mohon dimaafkan. Saya ucapkan terima kasih atas kehadiran dan perhatian saudara sekalian.
Wassalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Langganan:
Postingan (Atom)