Senin, 03 Januari 2011

Jurnal tentang CSR

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah
Industrialisasi yang terjadi di Indonesia sebagai perjalanan sejarah pertumbuhan ekonomi dan pembangunan merupakan sebuah transisi dari masyarakat tradisional (masyarakat ekonomi subsisten) menuju  masyarakat modern ( kegiatan ekonomi yang bersifat komersial industrial). Perubahan yang terjadi ini merupakan interaksi yang berlangsung dalam perjalanan waktu di antara dua sektor yang dimaksud .
 Industrialisasi tersebut telah merubah pola ekonomi masyarakat Indonesia menuju industri, hal ini ditandai dengan  menjamurnya pabrik – pabrik industri baik dalam bidang pertambangan, manufaktur, otomotif, dll. Proses industri tersebut tidak hanya memiliki dampak secara ekonomi dan pembangunan, namun pada kenyataannya proses industri juga memberikan dampak pada komunitas yang merasakan operasionalisasi perusahaan secara langsung. Berjalannya suatu perusahaan tidak bisa dilepaskan dari para stakeholders, sebagai pihak yang mempengaruhi dan dipengaruhi. Maka dari itu penting untuk melihat dampak-dampak yang dihasilkan oleh kegiatan perusahaan.
 Proses industri oleh suatu perusahaan tentunya memiliki efek samping dari produksi mereka, seperti adanya limbah industri, pemanfaatan sumber daya alam komunitas lokal, polusi, dll. Sebagai sebuah tanggung jawab dari manfaat ekonomi yang telah diambil oleh industri dengan mengorbankan beberapa sumber daya komunitas lokal, maka kemudian muncul konsep CSR itu sendiri. Mengenai CSR, Howard R. Bowen menyatakan bahwa keberhasilan dunia bisnis ditentukan oleh bagaimana kontribusinya terhadap kesejahteraan masyarakat umum, bukan semata untuk warga bisnis itu sendiri . Perkembangan CSR ini kemudian juga dilibatkan dalam mewujudkan Millenium Development Goals (MDGs) untuk turut mengentaskan kemiskinan di dalam masyarakat. Oleh karena itu CSR menjadi permasalahan internasional dalam konteks peningkatan kesejahteraan masyarakat dunia.

 Kemudian bila kita menilik perkembangan CSR di Indonesia, ternyata Diantara negara-negara di Asia, penetrasi aktivitas CSR di Indonesia masih tergolong rendah. Pada tahun 2005 baru ada 27 perusahaan yang memberikan laporan mengenai aktivitas CSR yang dilaksanakannya . Karena kurangnya kesadaran perusahaan di Indonesia dalam melakukan CSR, maka kemudian pemerintah menurunkan Undang-Undang Perseroan Terbatas (UU Nomor 40 Tahun 2007) Bab V Pasal 74. UU ini hanya mengatur tentang kewajiban adanya CSR oleh perusahaan tambang saja.
 Salah satu perusahaan yang kami soroti kemudian dalam konteks CSR di Indonesia adalah Perusahaan Astra International Tbk. Astra merupakan salah satu perusahaan yang berkecimpung di industri Indonesia sejak lama, dan merupakan mitra penting dan pemerintah Indonesia dalam bidang industri otomotif. Astra sebagai perusahaan yang memiliki jaringan luas, manajemen yang baik, juga memiliki sejumlah kelebihan di bidang perencanaan dan pelaksanaan proram CSR sebagai suatu komitmen tanggung jawab perusahaan kepada stakeholders. Salah satu prestasi terbesar perusahaan Astra yang didapat tahun 2010 diperoleh dari Kementerian Pendidikan Nasional berupa penghargaan “Anugerah Peduli Pendidikan” karena kepeduliaannya pada pembangunan dunia pendidikan di Tanah Air. Selama ini Grup Astra menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama aktivitas Corporate Social Responsibility (CSR), disamping pemberdayaan ekonomi melalui program Peningkatan Pendapatan . Prestasi ini tidak hanya dilihat sebagai bentuk apresias penghargaan, juga bentuk keseriusan pihak perusahaan dalam pelaksanaan program-program CSR.

I.2 Permasalahan
Dengan melihat perkembangan CSR di negara-negara maju yang telah banyak tedapat pengumuman atau CSR Report, maka proses pengawasan mengenai CSR oleh masyarakat umum sangat mudah dilakukan, sehingga perusahaan-perusahaan yang tidak menjalankan CSR secara tidak baik akan langsung merasakan sanksi sosial seperti produk yang tidak laris. Namun dalam konteks Indonesia, CSR masih dianggap sebagai kegiatan yang tidak terlalu penting baik bagi korporasi maupun masyarakat yang melihatnya. UU yang mengatur tentang CSR pun hanya terbatas pada perusahaan tambang saja.

Melihat fenomena itu, menarik sekali rasanya melihat perusahaan Astra yang bila dilihat dari sektor industri yang bukan pertambangan, namun sangat perhatian terhadap kegiatan CSR. Perusahaan otomotif ini sangat ingin kami lihat proses bagaimana CSR itu dijalankan, bagaimana sustainibility perusahaan tersebut, bagaiaman tanggapan dari para stakeholder perusahaan tersebut, dan lain sebagainya. Dalam paper ini kami mencoba melihat permasalahan-permasalahan yang dialami Astra dalam melakukan CSR. Kami pun mencoba untuk melakukan kajian kritis terhadap kegiatan CSR yang telah dilakukan oleh perusahaan Astra di Indonesia.
Berdasarkan permasalahan diatas, dapat dirumuskan beberapa pertanyaan penelitian, diantaranya:
1. Program apa saja yang diberikan PT. Astra Internasional terhadap keseluruhan stakeholder yang mereka miliki baik itu karyawan, komunitas lokal, kondsumen, pemasok, pemerintah dan lain sebagainya sebagai bentuk tanggung jawab sosial korporasi?
2. Bagaimana implementasi dari program-program CSR yang diberikan PT. Astra Internasional di lapangan?
3. Bagaimana manfaat program CSR yang diberikan PT. Astra Internasional bagi para stakeholdernya dan juga bagi PT. Astra Internasional itu sendiri?

I.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan diatas, dapat dirumuskan beberapa tujuan penelitian, yaitu:
1. Untuk mengetahui program-program apa saja yang diberikan PT. Astra Internasional terhadap keselurahan stakeholder yang mereka miliki baik itu karyawan, komunitas lokal, konsumen, pemasok, pemerintah dan lain sebagainya sebagai bentuk tanggung jawab sosial korporasi.
2. Untuk mengetahui implementasi dari program-program CSR yang diberikan PT. Astra Internasional di lapangan
3. Untuk mengetahui manfaat program CSR yang diberikan PT. Astra Internasional bagi para stakeholdernya dan juga bagi PT. Astra Internasional itu sendiri.

I.4 Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode wawancara, observasi, dan kajian literatur. Wawancara secara mendalam dilakukan terhadap beberapa informan kunci. Informan pertama dan kedua merupakan karyawan pada divisi ESR PT. Astra Internasional dan informan ketiga adalah merupakan salah seorang stakeholder yang lingkungan tempat tinggalnya terletak pada ring 1 di sekitar perusahaan. Wawancara secara mendalam ini dilakukan guna memperoleh informasi yang terkait dengan permasalahan penelitian, sementara observasi dilakukan terhadap lokasi penelitian dengan menggambarkan kondisi lingkungan sekitar perusahaan dan juga tempat tinggal informan. Kajian literatur dilakukan dengan data-data yang diperoleh dari PT. Astra Internasional yang berupa Sustainable Report PT. Astra Internasional tahun 2009 dan majalah-majalah yang diterbitkan secara berkala oleh perusahaan Astra Internasional.

I.5 Keterbatasan Penelitian
Sebelum melakukan penelitian, peneliti telah berusaha membuat sebuah rancangan penelitian dengan sebaik mungkin. Namun, terdapat keterbatasan dalam penelitian ini, yang muncul pada saat pelaksanaan penelitian, dan akhirnya turut berpengaruh terhadap hasil penelitian. Adapun keterbatasan penelitian ini disebabkan oleh kendala waktu. Minimnya waktu yang dimiliki peneliti berimplikasi pada keterbatasan perolehan data yang dapat dikumpulkan sehingga penelitian ini dirasakan belum maksimal.






BAB II
DESKRIPSI DATA LAPANGAN


 PROFIL  PERUSAHAAN DAN PROGRAM CSR PT. ASTRA INTERNATIONAL

PT Astra International Tbk (Perseroan) didirikan pada tahun 1957 sebagai perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan. Saat ini, Perseroan mengelola 6 lini usaha atau value chain, yakni Otomotif, Jasa Keuangan, Peralatan Berat, Pertambangan dan Energi, Agribisnis, Teknologi Informasi, serta Infrastruktur dan Logistik. Hingga  akhir tahun 2009, kelompok usaha Perseroan memiliki 154 perusahaan yang meliputi anak perusahaan.

Visi Perusahaan  :
• Menjadi salah satu perusahaan dengan pengelolaan terbaik di Asia Pasifik dengan penekanan pada pertumbuhan yang berkelanjutan dengan pembangunan kompetensi melalui pengembangan sumber daya manusia,struktur keuangan yang solid, kepuasan pelanggan dan efisiensi
• Menjadi perusahaan yang mempunyai tanggung jawab sosial serta ramah lingkungan

Sesuai dengan visinya Astra  menjadikan pelaksanaan kegiatan  Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai bagian integral dari setiap kegiatan usaha perusahaan. Kegiatan  CSR pada PT. Astra International dijalankan oleh Divisi ESR. Pada tanggal 28 Oktober 2009, Astra meluncurkan program Semangat Astra Terpadu untuk Indonesia (SATU Indonesia) yang selanjutnya akan menjadi payung besar bagi semua pelaksanaan program CSR dan lingkungan yang dilaksanakan agar semua kegiatan CSR dapat terintegrasi dengan baik. Program CSR Astra meliputi bidang : bantuan kemanusiaan, pendidikan dan program peningkatan pendapatan.
Dalam bidang bantuan kemanusiaan,  Astra memberikan bantuan bagi para korban bencana alam yang terjadi pada saat berlangsungnya program CSR dan jangkauannya ke seluruh penjuru wilayah Indonesia yang mengalami bencana. Dalam bidang pendidikan merupakan fokus utama Astra dalam program pengembangan masyarakatnya. Bantuan dalam bidang pendidikan yaitu berupa pemeberian beasiswa kepada siswa SD, SMP, SMA di wilayah dimana PT. Astra Internasional beroperasi juga berbagai pembinaan sekolah. Selain itu Astra membuka kesempatan pada siswa SMK atau Perguruan Tinggi yang memenuhi syarat untuk melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL). Sedangkan dalam bidang Program peningkatan pendapatan yang bertujuan mengoptimalkan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan serta pembangunan jaringan dan pertumbuhan usaha kecil  untuk mencapai kemandirian masyarakat merupakan salah satu fokus utama perusahaan dalam menjalankan CSR-nya. Astra memberikan fasilitas-fasilitas pendukung dan kegiatan pemberdayaan agar kegiatan usaha masyarakat dapat berkesinambungan. Kegiatan yang dilakukan yaitu berupa produksi kain majun dan pemberian bantuan Microfinance kepada para ibu rumah tangga yang memeiliki usaha kecil.
Astra memiliki 2 kerangka kerja yaitu Astra Friendly Company (AFC) dan Astra Green Company (AGC). AGC memberikan landasan dalam pengelolaan Lingkungan, Kesehatan & Keselamatan Kerja (LK3).Sedangkan AFC menggariskan ketentuan akan pentingnya pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan dengan memperhatikan kesadaran sosial yang diterapkan melalui implementasi kegiatan di bidang Pengembangan Masyarakat. 
Astra Friendly Company (AFC) merupakan  sistem standar manajemen  bagi Perusahaan Astra Internasional dalam hal pelaksanaan CSR.  AFC berlandaskan pada 3 pilar utama , yaitu
1. Value, program yang dilakukan Astra memiliki landasan/dasar yang sesuai dengan filosofi (Catur Dharma), visi,


2. Mindset, pelaksanaan yang sistematis dan terstruktur. Dengan identifikasi dampak sosial-bisnis, stakeholders, menyusun program sesuai persepsi dan harapan stakeholders, menentukan indikator keberhasilan, dan terakhir melakukan review secara berkelanjutan sebagai upaya monitoring.
3. Behaviour, seluruh program CSR yang dilaksanakan dimaksudkan untuk memenuhi hak stakeholders terkait.
Keseluruhan pilar dasar tersebut lalu teruang dalam satu buku “Panduan Kriteria Asesmen Astra Friendly Company” yang berisikan kriteria- kriteria AFC dan digunakan sebagai pedoman untuk pengarahan kualitas hubungan sosial perusahaan dengan stakeholdernya yang keseluruhannya merupakan objek standar penilaian kinerja CSR. Kinerja AFC Astra dievaluasi setiap tahun berdasarkan panduan kinerja yang ditetapkan. Akan tetapi, penentuan prioritas program CSR berbeda antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya, disesuaikan dengan karakteristik bidang usaha, alokasi dana dan sumber daya. Penilaian kinerjanya pun bersifat kompeherensif meliputi tingkat pencapaian sistem manajemen, aktivitas dan program yang menggunakan Key Performance Indicator (KPI) sebagai sistem peringkat, dimulai dari bintang satu untuk pencapaian yang terendah dan bintang lima untuk pencapaian paling tinggi.
Astra Green Company  ( AGC) merupakan kerangka kerja perusahaan dibawah kelompok usaha astra, atau juga sebagai guidelines, petunjuk pelaksanaan kerja perusahaan dengan pengelolaan lingkungan, kesehatan dan keselamatan (LK3). Dalam komitmennya dalam mengelola LK3 perusahaan harus berlandaskan pada  :
• Strategi bisnis perusahaan (Green Strategy)
  Proses bisnis yang aman,nyaman dan bersih (Green Process)
  Pengembangan produk yang ramah lingkungan (Green Product)
  Pengembangan kompetensi sumber daya manusia (Green Employee).
Dalam rangka  mewujudkan pelaksanaan usaha Astra yang dapat bertahan dan berkembang, perusahaan senantiasa menjalankan upaya yang sistematis, terintegrasi dan berkesinambungan, mulai dari persiapan, pelaksanaan dan monitoring. Melalui mekanisme award yang diselenggarakan Astra Internasional merupakan bentuk penghargaan bagi kelompok usaha Astra dan mendapatkan image baik dengan label ‘green’. Penilaian dilakukan dengan sistem peringkat dengan urutan tertinggi hingga terendah sebagai berikut : emas, hijau, biru, merah, dan hitam.

 PROFIL STAKEHOLDER

Stakeholder merupakan pemangku kepentigan terhadap suatu perusahaan, pihak yang dipengaruhi dan mempengaruhi. PT Astra International yang menjalankan CSR-nya dalam bidang bantuan kemanusiaan, pendidikan serta pengembangan masyarakat maka para stakeholdernya utamanya yaitu  :

• Warga komunitas
Warga komunitas merupakan stakeholder yang merasakan dampak langsung dari operasi kegiatan usaha yang dilakukan oleh PT. Astra International. Dampak langsung dari kegiatan usaha tersebut dapat menimbulkan gangguan dan kerugian bagi warga komunitas apabila tidak ditanggulangi dalam bentuk jawab sosial maka tindakan protes yang dilakukan warga komunitas terhadap perusahaan dapat mengancam kelangsungan kegiatan usaha perusahaan, oleh karena itu diperlukan tanggung jawab sosial perusahaan tuntuk menanggulangi dampak yang telah ditimbulkannya terhadap warga komunitas sekitas. Warga komunitas yang berlokasi terdekat dari lokasi perusahaan Astra yaitu kelurahan Sungai Bambu, kelurahan Papanggo dan kelurahan Warakas merupakan stakeholder target dari kegiatan CSR yang dilakukan terutama dalam bidang pengembangan masyarakat program peningkatan pendapatan dan pendidikan.Salah satu stakeholder yang menjadi Informan dalam penelitian ini yaitu salah satu warga komunitas yang tinggal di RW 08 Kelurahan Sungai Bambu




• Karyawan
Karyawan merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari kegiatan usaha yang dijalankan suatu perusahaan, oleh karena itu karyawan dapat mempengaruhi jalannya kegiatan usaha perusahaan. Begitu pula pada PT. Astra International, karyawan menjadi stakeholder yang juga perlu dilibatkan dalam program CSR yang dilakukan.

• Pelanggan
Pelanggan merupakan pihak yang akan mengkonsumsi hasil produksi perusahaan PT. Astra International dimana menjadi sumber profit yang akan didapatkan oleh perusahaan. Oleh karena itu kepuasan pelanggan merupakan hal yang senantiasa harus selalu dapat di maintain oleh perusahaan salah satunya melalui pelayanan yang baik.

• Lingkungan 
Limbah kegiatan usaha PT. Astra International berupa limbah gas dan limbah cair do lingkungan sekitarnya tentu saja menyebabkan penurunan kualitas lingkungan oleh karena itu pelestraian lingkungan menjadi tanggung jawab PT. Astra International. Pelestarian lingkungan sudah seharusnya menjadi bagian yang terintegrasi dalam setiap langkah usaha yang dilakukan oleh Astra.

• Supplier
Supplier atau pemasok juga mempengaruhi kualitas produk dan dampak lingkungan yang dihasilkan PT. Astra International atas kegiatan usahanya, oleh karena perusahaan harus berkomitmen untuk senantiasa melibatkan supplier dalam meeningkatkan mutu dan kualitas produk psokan serta meminimalisir dampak lingkungan yang ditimbulkan.



• Pemerintah
Kerjasama dengan institusi pemerintah di dalam bidang sosial kemasyarakatan dapat menciptakan  manfaat yang luas bagi perusahaan. Keterlibatan dengan pemerintah,  dapat menyokong kegiatan usaha PT. Astra International terjadi koordinasi serta dukungan terhadap  perencanaan dan pelaksanaan program CSR yang dilakukan oleh PT.Astra International

























BAB III
ISI DAN ANALISA

III.1 Temuan data
Definisi CSR menurut ISO 26000 mengenai Guidance on Social Responsibility juga memberikan penjelasan kompeherensif mengenai pihak-pihak yang berkaitan dalam perushaan (stakeholders) Meskipun pedoman CSR standard internasional ini baru akan ditetapkan tahun 2010, draft pedoman ini bisa dijadikan rujukan. Menurut ISO 26000, CSR adalah:
Tanggung jawab sebuah organisasi terhadap dampak-dampak dari keputusan-keputusan dan kegiatan-kegiatannya pada masyarakat dan lingkungan yang diwujudkan dalam bentuk perilaku transparan dan etis yang sejalan dengan pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat; mempertimbangkan harapan pemangku kepentingan, sejalan dengan hukum yang ditetapkan dan norma-norma perilaku internasional; serta terintegrasi dengan organisasi secara menyeluruh (draft 3, 2007).
Berdasarkan pedoman ini, CSR tidaklah sesederhana sebagaimana dipahami dan dipraktikkan oleh kebanyakan perusahaan. CSR mencakup tujuh komponen utama, yaitu: the environment, social development, human rights, organizational governance, labor practices, fair operating practices, dan consumer issues (lihat Sukada dan Jalal, 2008).
Kebijakan yang dilakukan korporasi perusahaan Astra Internasional dalam hal tanggung jawab sosial dan lingkungan tidak hanya dilakukan oleh perusahaan Astra Internasional yang bisa dikatakan sebagai induk perusahaan, namun juga oleh anak-anak cabang grup Astra yang tersebar di seluruh Indonesia yang mencapai 154 anak perusahaan. Fokus penelitian kali ini melihat kebijakan tanggung jawab korporasi yang dilakukan oleh perusahaan Astra Internasional di daerah Tanjung Priuk, Jakarta utara. Payung besar yang menaungi semua kegiatan tanggung jawab korporasi diluncurkan pada tanggal 28 Oktober 2009 dengan program yang dinamakan Semangat Astra Terpadu untuk Indonesia (SATU Indonesia). Untuk program tanggung jawab korporasi perusahaan Astra Internasional sendiri, meliputi, bantuan kemanusiaan, pendidikan, program peningkatan pendapatan, pekerja, suppliers (pemasok), pelanggan (costumers), lingkungan, dan  pemerintah. Hal ini menunjukkan Perusahaan Astra Internasional melihat lingkungan eksternal dan internal perusahaan yang disebut sebagai stakeholders merupakan bagian yang terintegral dalam kinerja perusahaan, terlihat dari program atau kegiatan yang dilakukan tidak hanya terkonsentrasi pada philanthropy sebagai bentuk charity perusahaan kepada masyarakat, namun juga diperuntukkan pekerja, komunitas lokal dan pihak-pihak yang berhubungan dalam proses kerja perusahaan Astra.
Program CSR yang dilaksanakan oleh perusahaan Astra menanamkan konsep corporate social responsibility (CSR) agar lebih sejalan dengan filosofi Astra untuk menjadi asset bagi bangsa dan Negara. Pendekatan triple bottom line diluncurkan agar perusahaan tidak saja mengutamakan profit, tapi juga lingkungan dan lingkungan sosial. Oleh sebab itu Grup Astra selalu berupaya selalu terdepan dalam bidang CSR, meski dilakukan tanpa diketahui banyak pihak. Focus utama dalam program adalah bidang pendidikan dan Income Generating Activities.
Pelaksanaan program CSR sebagai bentuk komitmen dan tanggung jawab perusahaan dilakukan pada daerah-daerah di tempat anak cabang perusahaan dan wilayah sekitar perusahaan Astra di Priuk, Jakarta utara. Untuk program CSR yang dilakukan perusahaan Astra untuk daerah sekitarnya antara lain:

Program Bantuan Kemanusiaan
Program bantuan kemanusiaan yang dilakukan selain pemberian bantuan untuk daerah yang terkena bencana alam, perusahaan Astra juga memiliki program yang memiliki prospek yang berkelanjutan yaitu perbaikan infrastruktur sekolah melalui bedah sekolah, rehabilitasi puskesmas di wilayah sekitar perusahaan Astra. Concern pada perbaikan dan pembangunan gedung sekolah menjadi target program yang sedang berlangsung sekarang ini, hal ini dianggap memberikan manfaat untuk orang banyak dengan harapan menghasilkan aset bangsa untuk memajukan pedidikan bangsa. Manfaat ini juga nantinya dapat dirasakan antar-generasi.

Karyawan
Untuk karyawan sebagai stakeholder yang menjalankan operasi perusahaan selain diberikan pelatihan pengembangan kepemimpinan dan management, perusahaan juga menyediakan sarana beribadah yang terletak didepan kantor, yang dinamakan masjid Astra dan merupakan masjid terbersih di wilayah Jakarta Utara. Untuk mewadahi komunikasi antara perusahaan dan karyawan, kelompok usaha Astra mendirikan Forum Bipartit dengan bentuk seperti serikat pekerja. Sarana pemeliharaan etos kerja, pengembangan kualitas diri perusahaan senantiasa memberikan penghargaan bagi karawayan dengan event yang bertepatan dengan HUT Astra. Untuk menjadikan kara\yawan sebagai bagian terintegral dalam perusahaan, maka program Social work melalui partisipasi secara sukarela karwayan disiapkan untuk meluangkan waktunya secara kontinu untuk dapat memberikan perhatian dan bantuan bagi anak-anak dalam hal pendidikan dengan membacakan cerita, belajar bersama dan kegiatan-kegiatan sosial-pendidikan. Selain itu untuk bentuk pinjaman karyawan dapat diperoleh dari koperasi kepegawaian yang dibentuk sebagai wujud kepedulian dan pemberian bantuan dari pihak perusahaan.

Lingkungan
Faktor kondisi lingkungan sebagai dampak dari penggunaan mesin yang menghasilkan polusi udara maupun limbah produksi disiasati perusahaan dengan pembangunan Sunter dua nusa, yaitu taman yang berarsitektur seperti Nusa dua. Pembuatan kanal untuk daerah banjir, oleh karena daerah tempat perusahaan beroperasi rawan sekali dengan banjir. Limbah kegiatan usaha PT. Astra International berupa limbah gas dan limbah cair do lingkungan sekitarnya juga menjadi menyebabkan penurunan kualitas lingkungan oleh karena itu pelestraian lingkungan menjadi tanggung jawab PT. Astra International. Pelestarian lingkungan sudah seharusnya menjadi bagian yang terintegrasi dalam setiap langkah usaha yang dilakukan oleh Astra.

Dua program utama dan menjadi concern tersendiri untuk perusahaan Astra Internasional yaitu pendidikan dan peningkatan pendapatan masyarakat (income generating). Mengingat aspek yang perlu diperhatikan bagi program pengembangan masyarakat yaitu aspek keberlanjutan, kedua program ini cukup mewakili walaupun tidak menutup kemungkinan terdapat kekurangan didalamnya. Terlihat dari program-program yang telah dilaksanakan lebih mengarahkan masyarakat menuju masyarakat yang mandiri, maju. Dan melalui pendidikan meruapakan salah satu jalan untuk meningkatkan intelektualitas masyarakat menuju kemandirian.

Pendidikan
Fokus utamanya yaitu pengembangan masyarakat dengan tujuan mewujukan masyarakat yang cerdas, aktif dan mandiri sebagai bentuk kontribusi terhadap masyarakat di tempat perusahaan beroperasi. Bantuan pendidikan terdiri dari tiga jenis kegiatan yaitu software, brainware, dan  hardware. Bentuk brainware seperti pembinaan dan pelatihan, hardware terkait dengan fasilitas fisik. Untuk kegiatan pembinaan dilakukan di SDN 05 dan SDN 06 Sungai Bambu mencakup pendidikan untuk lingkungan., pemberian beasiswa bagi siswa berprestasi, pembangunan ruang perpustakaan, UKS, dan ruang guru juga. Bentuk barinware ini ditujukan untuk mensosialisasi nilai peduli lingkungan sosial. Program kegiatan yang sedang berlangsung dari perusahaan Astra Internasional yaitu pembangunan untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Pelatihan juga dilakukan di SMK atau perguruan tinggi untuk Praktek Kerja Lapangan (PKL)/magang di perusahaan Astra dan beberapa sales operation, serta bekerja sama dengan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) mengembangkan bengkel binaan sebagai ukm yang bergerak dalam bidang industri otomotif. Melalui Yayasan Astra Bina Ilmu (YABI), perusahaan Astra juga banyak memberikan beasiswa bagi masyarakat pra-sejahtera dan beasiswa prestasi untuk melanjutkan jenjang perguruan tinggi S1, S2.
Perusahaan dan yayasan Astra sangat fokus dengan pendidikan, melalui pendidikan nilai-nilai disosialisasikan, tranfer pengetahuan berjalan dengan cepat. Contohnya saja sumbangan reprint buka STEP 1 yang diterbutkan Toyota Motor Corporation untuk pelatihan mekanik Toyota di pusat pelatihan Toyota-Astra motor, sebagai buku pegangan pokok bagi murid di SMK otomotif, negeri dan swasta. Hal ini memberikan setidaknya pra-training bagi siswa, sehingga siswa mampu mengadopsi tehnik dan melakukan inovasi didalamnya. Hasil yang diterima perusahaan Astra yaitu hampir 90% sparepart meruapakan hasil dari bengkel binaan yang terus menginovasi teknologi, khususnya otomotif. Output yang dihasilkan dari bengkel binaan dan pelatihan para siswa untuk tingkat SMK otomotif memberikan keuntungan bagi Astra sebagai assembly otomotif terbesar di Indonesia dengan anak cabang perusahaan yang tersebar luas, hal ini dirasakan sebagai efisiensi biaya dimana seperti kita ketahui biaya untuk bahan baku impor akan tinggi biayanya dibandingkan dengan produksi dalam negeri.

Program peningkatan pendapatan
Optimalisasi kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan serta pembangunan jaringan yang mendukung pertumbuhan usaha kecil menengah merupakan komitmen berkelanjutan dan menjadi salah satu fokus utama perusahaan dalam menjalankan program CSR. Program Income Generating activity (IGA) adalah salah satu bentuk program CSR yang bisa diterapkan di area perkebunan dan pertambangan. Salah satu program IGA yang sedang giat dilakukan YDBA adalah pembinaan dan pengembangan petani dan UMKM melalui pendirian Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) dan Lembaga Keuangan Mikro (LKM). Hingga saat ini YDBA bersama mitra kerja baik internal maupun eksternal Grup Astra telah mendirikan 10 LPB dan 7 LKM yang tersebar di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Bara, Kalimantan, dan Sulawesi. Seiring dengan perkembangan bisnis Grup Astra di bidang perkebunan dan pertambangan, maka kebutuhan pembinaan untuk masyarakat sekitar juga semakin meningkat, baik dalam jumlah dan kualitas program maupun luas wilayah binaan. Oleh karena itu YDBA merasa perlu untuk menyelenggarakan Training for Trainer Program IGA Agribisnis dan Pertambangan. Chief Corporate Security & Enviroment Social Responsibtlity  (SESR) Astra, Arief Istanto, juga memaparkan Corporate Policy Astra 2010 di bidang sosial, yaitu
1. Pencapaian peringkat “three star” Astra Friendly Company
2. Mempertahankan program CSR yang telah berjalan dan memperluas dampak program dengan focus pada IGA dan pendidikan.
3. Peningkatan sinergi program CSR Grup Astra melalui program Astra Employee Volunteer Program untuk mendukung  Program Satu Indonesia.
Program Income Generating activity (IGA) menggunakan pendekatan pengembangan masyaraka,  untuk wilayah komunitas lokal sendiri dilaksanakan kelurahan Sungai Bambu di RW 08 dan 09, Sungai bambu dengan jumlah total peserta 47 ibu rumah tangga yang terbag ke dalam kelompok-kelompok. Produk yang dihasilkan yaitu hasil jahitan kain majun. Hasil jahitan ini kemudian di pasarkan dan menjadi konsumsi bagi AUTO 2000 dan PT Astra Daihatsu Motor.

Pengembangan melalui pemberdayaan ibu rumah tangga ini sudah dilakukan sejak tahun 2006-2007 hingga sekarang Astra juga bekerja sama dengan Dompet Dhuafa untuk menjalankan program ini. Harapan jangka panjang Astra dari kegiatan ini dimaksudkan untuk menciptakan UKM yang Berdikari (berdiri di kaki sendiri), mandiri dalam kegiatan produksi hingga distribusi. Mekanisme bantuan mulai dari Micro Finance yaitu pinjaman lunak tnpa bunga atau dengan bunga rendah untuk pengembangan keterampilan yang ada di masyarakat. banyak ragamnya antara lain untuk tehnik pembuatan makanan, produksi kain, produksi barang-barang kebutuhajn dan sebagainya. Kendala yang dialami dari sisi perusahaan yaitu merasa disepelekan dengan pinjaman tanpa bunga sehingga program tidak berjalan karena masyrakat yang tidka sabar dan inovatif dalam persaingan usaha. Untuk itu perusahaan melihat perlunya meknaisme kontrol sebagai monitoring terhadap kegiatan di masyarakat melalui angket penilaian dan turun langsung ke masyarakat satu minggu sekali. Kesolidan teamwork menjadi kunci untuk dapat memaintain program kegiatan yang dilakukan, tidak jarang juga top management turun langsung untuk melihat sejauh mana program telah dilaksanakan. Dalam menghadapi persaingan, UKM-UKM ini juga harus siap melakukan inovasi.

Yayasan-Yayasan Astra

Perusahaan Astra Internasional dalam pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan dilakukan melalui kerjasama antar yayasan yang dibentuk untuk menaungi kegiatan-kegiatan sosial. Program pengembangan masyarakat, pendidikan dan pelestarian lingkungan dikelola oleh yayasan-yayasan Astra untuk mewujudkan keberhasilan program yang efektif, terstruktur dan terintegrasi.  Yayasan – yayasannya diantara lain dapat digambarkan dalam matriks

Tabel 1.Yayasan-yayasan dibawah kelola Astra Internasional Group

Yayasan Fokus kegiatan Program kegiatan yang dilakukan Hasil / output yang dihasilkan
Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) Pengembangan usaha kecil menengah  -Pembinaan UKM yang tersebar di berbagai wilayah

-Pemberdayaan pemuda putus sekolah kepada 232  siswa dan siap bekerja sebagai mekanik sepeda
Motor Honda maupun merintis usaha bengkel.

-Memberikan pembekalan pasca karyawan Grup
Astra dan diantaranya menjadi instruktur YDBA.

- Pembuatan modul pelatihan UKM yang up to date.

-Mendirikan Lembaga Keuangan Mikro (LKM)

- Pembinaan kelompok nelayan, petani, penyulam, kerajinan
Eceng gondok, katering, dan bengkel Roda 2
 Efisiensi cost, pergantian cost yang harus dikeluarkan menjadi efisien dengan UKM yang bekerja, terutama yang bergerak dalam bidang otomotif dalam menciptakan inovasi teknologi.

Terbukti dengan 90% spareparts untuk grup Honda Motor diproduksi oleh bengkel binaan yang dikelola oleh YDBA.
Yayasan Astra Bina Pendidikan (YABP) Peningkatan mutu pendidikan didaerah prasejahtera -Melakukan pembinaan pada SD dan SMP
-memberikan pelatihan akademik

-Perbaikan dan pemenuhan sarana prasarana sekolah

- Pembinaan bagi sekolah yang akan menempuh
Akreditasi.

-Pemberian kegiatan life skills Merupakan bentuk kepedulian perusahaan, sebagai bentuk media marketing bagi perusahaan untuk mendapatkan pencitraan yang baik di masyarakat dengan menyelenggarakan pendidikan.
Yayasan Astra Amaliah (YAA) Peningkatan intelektualitas, kecerdasan emosional -Menghimpun dan mengelola serta menyalurkan zakat keluarga besar Astra dan masyarakat lewat LAZIS

- Program Parenting Club.

-Melaksanakan kegiatan rutin dan non-rutin pada Masjid Astra Bentuk kepedulian perusahaan untuk masyarakat sekitarnya, memberikan pengaruh cukup signifikan bagi di masyarakat dengan pengadaan sarana ibadah dan edukasi emosional keagamaan untuk anak-anak.
Yayasan Astra Bina Ilmu (YABI) Penyelenggaraan pendidikan, khususnya dalam bid. Teknologi terkait otomotif dan SDA -Beasiswa bagi dosen dan instruktur untuk melanjutkan
Ke jenjang d4 / s1 dan s2

-Beasiswa pretasi bagi siswa smk yang memenuhi syarat

-Beasiswa ikatan dinas pt astra agro lestari tbk
(aal) bagi mahasiswa jurusan teknik pengolahan hasil
Pertanian (tphp). Kandidat penerima beasiswa adalah
Anggota keluarga karyawan yang berada di lokasi.

Media marketing perusahaan, persiapan proses rekruitmen bagi pencalonan pegawai yang memenuhi kualifikasi untuk berkontribusi pada pengembangan perusahaan.
Yayasan Toyota dan Astra (YTA) Pemberian bantuan kepada sektor pendidikan, penelitian dan pengembangan ilmu teknologi otomotif -Beasiswa kepada pelajar Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah dari keluarga tidak mampu yang tinggal di sekitar perusahaan maupun di kawasan Jabodetabek.

-Beasiswa bagi  mahasiswa Strata 1 dan 2  yang berbakat dan berprestasi dari keluarga berpenghasilan rendah

-Bantuan biaya penelitian kepada staf pengajar dan mahasiswa perguruan tinggi negeri

Koperasi Astra Internasional (KAI) Meningkatkan kesejahteraan anggota karyawan Astra - Simpanan anggota dalam bentuk simpanan berjangka.

- Pinjaman bagi anggota
.
- Pemberian bantuan fasilitas kesejahteraan dan pendidikan dan
fasilitas perumahan. Bantuan kepada pegawai perusahaan dengan bantuan pinjaman, suatu penyelesaian masalah yang terkait dengan penghasilan pegawai.
Dana Pensiun Astra (DPA) Mempersiapkan karyawan untuk masuk masa pensiun -Pelatihan dan pengembangan (Competency Model, Pelatihan Program Persiapan Pensiun)

-Program Persiapan Pensiun Karyawan Astra (Program
Purnabhakti Tanggung jawab moril bagi perusahaan bagi pegawai yang telah dan akan pensiun.

Selain yayasan sebagai payung besar dalam implementasi program CSR, PT Astra Internasional Tbk dengan PT Bank Central Asia (BCA),  PT Pertamina (Persero) dan  bekerja sama juga dengan Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumatera Selatan pada tanggal 16 Juli 2010 meresmikan pendirian Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) Mitra Bersama di Palembang, Sumatera Selatan. Dipilihnya Palembang sebagai salah satu lokasi kantor LPB adalah karena Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) disana berpotensi untuk dikembangkan. Tahun 2009 di Sumatera Selatan terdapat sekitar 1,9 juta UMKM yang terdiri dari sektor industry pangan, kimia, karet, bahan bangunan, logam, jasa, kerajinan, umum, sandang, dan kulit. Oleh karena itu keberadaan LPB diharapkan bisa makin meningkatkan kinerja UMKM di Sumatera Selatan.
Menurut ketua pengurus Yayasan Dharma Bakti Astra (YDBA), Aminuddin, ide pendirian LPB Mitra Bersama telah muncul sejak tahun 2007. Namun, baru bisa direalisasikan pertama kali pada 25 November 2009 lalu di Sidoarjo. Dengan mengeluarkan dana Rp 5,2 miliar yang memang ditujukan untuk menjalankan misi CSR ketiga perusahaan selama tiga tahun ke depan di 5 daerah yang pelaksanannya dilakukan oleh YDBA. LPB Mitra Bersama berperan memberikan perkuatan di bidang teknik dan manajemen kepada UMKM berupa Pelatihan dan Pendampingan ; fasilitasi pembiayaan ke lembaga keuangan ; fasilitasi pasar dan informasi usaha. Sampai dengan bulan Juli 2010, LPB ini sudan mempunyai 35 UMKM binaan, yang kebanyakannya lebih bergerak di bidang usaha bordiran/sulaman, makanan, kerajinan, sepatu, sandal, dan lain-lain. Selanjutnya direncanakan akan didirikan 2 LPB lagi di Balikpapan, Kalimantan Timur dan Makasar, Sulawesi Selatan. Ketiga perusahaan tersebut berharap agar keberadaan LPB dapat membantu UMKM dalam mengembangkan usaha dan daya saingnya yang akhirnya bisa mendorong berkembangnya ekonomi lokal.

Analisa temuan data

Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan salah satu kegiatan dari manajemen perusahaan yang sering dianggap sebagai sebuah etika bisnis . Namun dalam kajian sosiologi CSR merupakan sebuah tanggung jawab sosial yang menjadi komitmen perusahaan untuk mengatasi dampak ataupun hasil dari tindakan/operasional perusahaan. Oleh karena itu program CSR menurut sosiologi merupakan hasil dari relasi anatara perusahaan dengan stakeholder sebagai pihak yang mempengaruhi dan dipengaruhi, dan menjawab parktek yang lebih sustainable dan equal.
Dalam konteks perusahaan Astra Internasional sebagai korporasi yang bergerak dalam bidang industri otomotif dengan anak cabang perusahaan yang teersebar seluruh Indonesia merupakan perusahaan besar dengan omset yang dihasilkan pun melambung tinggi. Bila melihat lokasi tempat operasi perusahaan astra yang bertempat di Tanjung Priuk-Jakarta utara yang meruapkan juga daerah industrial mesin berat sungguh sangat bising dan menganggu kenyamanan lingkungan sekitar. Mungkin sudah terbiasa bagi mereka di lingkungan sekitar untuk mendengar klakson, angkutan mesin berat, tronton dan truk-truk yang berlalu lalang setiap hari tiada hentinya. Hampir tidak ada jam istirahat dari kebisingan untuk daerah tersebut, satu kompleks meruapakan pabrik, tempat operasional yang dimiliki oleh Astra Internasional maupun anak cabang. Maka tidak menherankan ketika program CSR tidak hanay berbicara mengenai tanggng jawab melainkan jyga keamanan bagi perusahaan untuk dapat bertahan di kawasan tersebut.
Analisa dimulai dari bagaimana relasi yang terjadi di antara perusahaan dan stakeholders, dalam penelitian ini fokus komunitas lokal sebagai stakeholders. Relasi khusus antara perusahaan dengan komunitas lokal dimulai pada tahun ¬¬¬-2006-2007. Pada awalnya kelurahan Sungai Bambu memiliki kegiatan PKK yang dilakukan perempuan ibu rumah tangga dengan program UPPKS melalui kegiatan yang menghasilkan sumber ekonomi, dianatarnya produksi bedcover, sprei dan sebagainya. Namun kegiatan ini mandek atau terhenti di tengah jalan akibat kerusakan mesin sebagai mesin produksi. Dalam kondisi mandek ini, perusahaan melihat sisi potnsial komunitas yang dapat dikembangkan dan menghasilkan keuntungan bagi masyarakat dan perusahaan pada satu sisi. Pilihan yang ditawarkan saat itu yaitu melanjutkan kegiatan UPPKS dengan bantuan dari pihak perusahaan namun belum tahu bagaimana prospek kedepannya, atau alternatif lain dengan produksi hasil jahitan kain majun yang sudah jelas prospeknya untuk menunjang produksi dan konsumsi bagi perusahaan dan anak cabang.
Pengembangan masyarakat ini dilakukan pada tiga cluster yaitu 3 cluster dalam makjan yaitu makanan jajanan dan 1 cluster kain majun ini. Mekanisme bantuan melalui micro finance yaitu pinjaman lunak dengan bunga rendah dan 1 cluster mendapatkan pinjaman 6 juta untuk modal usaha, namun ada juga masyarakat yang fiktif dalam menjalankan usaha dan hingga sekarang pinjaman pun belum dikembalikan. Untuk RW 09, produksi kain majun tidak berkelanjutan dan terhenti ditengah jalan karena pihak perusahaan bermasalah dengan pihak RW dengan akar masalah yang bermuara pada uang materi. Tidak mengherankan ketika ada pihak-pihak yang berlaku demikian, dengan kecemburuan yang hadir karena bantuan yang diberikan masyarakat seolah memperlakukan dengan berbeda. Dalam penyelesaiannya perusahaan membentukan kesepakatan baru dengan mekanisme yang tidak jauh berbeda untuk RW 08, namun menekankan pada pendampingan dimana monitoring rutin dilaksanakan seminggu sekali. Perusahaan juga bekerja sama dengan dompet dhuafa untuk penyediaan pinjaman dan fasilitas mesin. Untuk kegiatan produksi kain majun dikoordinasikan oleh seorang aktivis sosial dnegan keterampilan menjahit yaitu Bu Tini. Melalui koordinasinya, pengelolaan pendapatan untuk tiap cluster juga menjadi teratur. Sosoknya mampu dipercaya untuk menjadi koordiantor dalam hal pengelolaan biaya peinjaman, karena dianggap kenal dan lebih mengetahui orang per orang yang memang membutuhkan pinjaman. Dinas sosial pun melakukan bantuan pinjaman lunak yang sangat rendah dengan pembayaran aeribu untuk sehari, namun niat dan tekad masyarakat yang tidak sabar dan ingin untung cepat justru menjadi kelemahan komunitas itu sendiri.
Tidak sedikit juga yang cemburu dengan kesuksesan Bu tini dan UKM majun yang berjalan dengan lancar dan menghasilkan keuntungan. Seperti kasus pembongkaran secara paksa oleh Satuan pamong praja untuk membongkar gudang kain majun yang memang berada di kolong terowongan namun hal ini dianggap aneh oleh beliau karena tidak jauh dari lokasi gudang banyak sekali anak-anak jalanan yang menetap di kolong jembatan. Sebagai seorang keturunan Betawi ia pun di backing oleh Forum Betawie Rempug, maka relasi semakin terlihat dimana keberadaan bu tini dan usahanya memang ditopang mekanismenya secara struktural, artinya pihak-pihak yang berperan memberikan keamanan tersendiri untuk Bu tini mengingat beliau membantu masyarakat sekitar dalam hal sumber pendapatan dan kehidupan..
Dalam program pengembangan pendapatan masyarakat, tidak hanya perusahaan Astra yang berperan namun juga partai politik yang ‘bermain’ diantaranya pemberian fasilitas, pelatihan menjahit secara gratis. Setiap kelompok membawa kepentingan masing-masing untuk menggunakan komunitas sebagai wadah atau corong untuk mengkomunikasikan kepentingannya tersebut. Bila dianalisa relasi yang terjalin cukup kompleks sesuai dengan kompleksitas masyarakat. artinya relasi konflik pun ada dimana pihak perusahaan tidak lagi menggunakan perantara RW sebagai koordinasi dengan masyarakat melainkan dengan agen di masyarakat yang mampu mengemban trust perusahaan. Relasi tidak harmonis pun dirasakan oleh antar masyarakat dengan isu kecemburuan karena pendapatan yang berbeda. Relasi integratif justru dirasakan pihak perusahaan dengan Bu Tini dan UKM produksi kain majun, oleh karena kain majun merupakan bagian dari astra dan Astra pun menjadi bagian penting bagi produksi kain majun. 
Dengan berbagai pinjaman dan bantuan yang diberikan pihak perusahaan, partai politik dan dinas sosial justru mebuat masyarakat menjadi ketergantungan. Hal ini pun dirasakan dengan Bu tini hingga sampai sekarang masih bermasalah dengan pemasaran bila tidak lagi didistribusikan oleh perusahaan Astra itu sendiri. Dengan adanya pinjaman dan kegiatan yang sudah hidup lagi, maka Bu tini juga melakukan aktvasi dari kegiatan UPPKS yang sebelumnya menghasilkan berbagai produk buatan hasil menjahit, melalui produksi rok, celana dan inovasi produk memberikan eksistensi ukm Bu Tini dari persaingan usaha. Menjadi kelemahan tersendiri bagi program CSR Astra Internasional dengan mempertanyakan aspek keberlanjutan yang seharusnya dapat dijawab karena tujuan awal untuk menciptakan masyarakat yang mandiri. Implikasi lain yang dihasilkan dengan bantuan yang diberikan perusahaan yaitu harapan setiap orang tua yang terlibat dalam UKM kerja sama dengan perusahaan yang menginginkan anaknya untuk kerja di perusahaan Astra. Hal ini menjadi sulit direalisasikan oleh perusahaan karean dalam proses rekruitmen sendiri pun memiliki standar kompetensi. Maka hal yang dapat dilakukan perusahaan salah satunya melalui pemberian pendidikan dalam hal Brainware, Hardware dan Software. Antara lainnya bedah sekolah yang mencakup reparasi dan penambahan fasilitas sarana sekolah, pelatihan lingkungan bagi siswa, pembinaan dan pelatihan siswa SMK otomotif, pemberian beasiswa dan sebagainya. Namun hal ini tidak menyentuh aspek assensial dari ekspektasi masyarakat, bahwa tidak hanya ‘pemberian’ bagi masyarakat. output untuk perusahaan pun kecil dalam bidang pendidikan, terkecuali pembinaan bengel binaan.
Bila dilihat mengenai kesesuaian dari kebutuhan masyarakat dengan program yang dilaksanakan Astra untuk komunitas lokal sudah sesuai walaupun masih ada hal-hal yang perlu dipikirkan yaitu masalah keberlanjutannya. Contohnya saja program pengembangan masyarakat, usaha ini strategis dilakukan dengan atrget ibu ramah tangga yang diharapkan mampu mandiri dan mengaktifkan kembali kegiatan PKK di lingkungan masyarakat, akan tetapi hambatan/kendala yang menjadi tantangan tersendiri yaitu ketergantungan masyarakat dalam hal finansial, pemasaran produk dan sebagainya. Begitupun dengan pendidikan yang diberikan belum mampu menampung harapan masyarakt sekitar, terutama ibu-ibu yang bekerja dalam UKM binaan perusahaan.
Dalam hal pemberdayaan, pembangunan kapasitas yang menekankan pada peningktan kemampuan bersama juga dilakukan dengan pelatihan secara gratis yang menajdi modal utama untk dapat bekerja dalam industri konveksi. Terlihat juga dari aktivasi program UPPKS yang sebelumnya terhenti oleh karena ketiadaan peralatan, namun sekarang produk yang dihasilkan pun lebih beragam.
Dampak dari program yang dilaksanakan perusahaan Astra dapat dirasakan dengan peningkatan pendapatan, perluasan produksi. Namun dalam jangka panjang akan sulit untuk menjaga unit kerja ini bila sudah tidak lagi dibawah perusahaan Astra. Dan dengan kompleksitas masyarakat yang berbeda walaupun dalam satu kelurahan memberikan pendekatan yang berbeda untuk melaksanakan program yang sama, yang terpenting bagaimana perusahaan dalam menciptakan trust di masyarakat dan pihak-pihak yang berkepentingan untuk melakukan suatu usaha sinergis dalam hal peningkatan pendapatan masyarakat.
Maka dengan adanya kegiatan CSR Astra Internasioal di lingkungan masyarakat  ini memiliki beberapa implikasi praktis abgi perusahaan, yang diantaranya :
• Keamanan bagi perusahaan untuk tetap menjalankan operasi perusahaan dan pabrik di lingkungan masyarakat
• Membangun relasi dan diplomasi dengan stakeholders secara lebih terstruktur, hal ini sudah dirasakan perusahaan dengan kerja sama yang terjalin cukup baik dengan pengembangan secara kontinu untuk usaha-usaha yang ada di komunitas lokal. Bagi komunitas lokal, tidka dipungkiri, program pengembangan masyarakat memberikan manfaat dalam mendapatkan sumber-sumber ekonomi.
• Mengurangi potensi konflik sebagai hasil kompleksitas relasi di masyarakat, dengan usaha ‘trust building’ dengan agen di masyarakat dan meminimalisasi hubungan perantara dengan pihak yang mencari keuntungan dari kehadiran perusahaan
• Media marketing, sebagai usaha pemasaran menghadapi persaingan usaha. Dengan program peduli lingkungan antara lain memperbaiki proses produksi dan pembuangan limbah yang tidak mencemari lingkungan masyarakat sekitar bertujuan untuk meningkatkan citra perusahaan, menuju market perusahaan yang potensial dan sebagai usaha mempertahankan konsumen yang loyal.












IV. PENUTUP

 Kesimpulan

Berdasarkan temuan data yang kami peroleh, dapat disimpulkan bahwa PT. Astra Internasional telah menjalankan tanggung jawab sosial korporasi-nya melalui program-program CSR yang dilakukannya terhadap keseluruhan stakeholder yang dimiliki PT. Astra Internasional. Hal ini menunjukkan bahwa PT. Astra Internasional telah dapat memetakan dengan baik mengenai siapa saja pemangku kepentingan yang harus mendapatkan perhatian lebih agar semua pemangku kepentingan tersebut dapat bersinergi dalam rangka mendorong kemajuan perusahaan PT. Astra Internasional. Astra telah mencanangkan program CSR yang cukup tepat sasaran terhadap apa yang dibutuhkan para stakeholdernya, namun dalam pelaksanaannya kendala utama yang dihadapi terutama  dalam program income generating dalam masyarakat adalah keberlanjutan program yang terhambat yang dilatarbelakangi oleh ketergantungan masyarakat terhadap pendampingan dari pihak Astra

 Saran
• Salah satu saran yang paling penting adalah terkait dengan pelatihan kemampuan komunitas utamanya dalam hal penguasaan atas mesin produksi \(mesin jahit). Agar jika suatu saat mesin rusak, komunitas bisa memperbaikinya sendiri. Hal ini sangat penting guna menunjang keberlanjutan program yang sedang dijalankan.
• Mensosialisasi program-program yang telah dan akan dilakukan guna pemasaran yang menyeluruh dan merangsang perkembangan program untuk wilayah lain.

xa.yimg.com/kq/groups/22968201/.../CSR_ASTRA+INTERNASIONAL.doc

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar